meski tlah jauh

alone

Minggu, 19 januari 2014

aku pasti kembali…”

Itulah kata-kata terakhir yang kau ucapkan untuk menentramkan hati ini. Sungguh, aku tidak pernah menginginkan perpisahan ini. Perpisahan yang meski aku tau itu juga demi masa depanmu dan juga masa depan kita, kelak. Walau terasa berat namun aku harus berusaha untuk bisa menerima semua ini.

Masih terasa lembut kau kecup kening dan bibir ini. Hangat pelukanmu pun masih terasa tanpa aku tau itu adalah pelukan terakhir yang aku rasakan. Lambaian tanganmu tak putus sampai kau masuk ke dalam burung besi itu. Tak putus aku panjatkan doa pada Ilahi semoga Dia selalu melindungimu dimanapun kau berada.

5 tahun berlalu…

Begitu cepat waktu berlalu. Begitu cepat pula bayangku hilang dari ingatanmu. 5 tahun berlalu dan selama itulah aku selalu menunggu kabarmu yang tak kunjung ada. Kemana hendak kucari dirimu. Beribu cara kutempuh hanya untuk tau dimana keberadaanmu. Bertahun ku mencarimu tapi sampai sekarang tak pernah kudapat kabar yang pasti.

sayangku…dimana kau berada…”

Berapa lama lagi kuharus menunggu. Berapa kota lagi mesti kejelajahi hanya untuk sekedar bisa melepas rasa rindu yang sudah begitu menyesak di dalam dada.

Hilang. Lenyap. Tak terlacak. Itulah yang aku rasakan saat mencoba mencarimu. Tlah kudatangi kota dan alamat yang dulu sempat kau berikan. Tapi bagai hantu, dirimu benar-benar telah menghilang. Menghilang tak tentu rimbanya.

Dimanakah dirimu berada sayangku…???

Dibawah sinar lembut sang rembulan, disini, di taman Monas ini. Tempat yang menjadi favorit kita untuk berbincang akan segala hal terutama bila kita sedang menghadapi masalah yang membutuhkan tempat yang bisa mendinginkan suasana hati dan perasaan kita, aku mencoba mencari tahu kenapa tiba-tiba dirimu menghilang tanpa ada kabar beritanya.

Mungkinkah…

Mungkinkah masalah lama itu lagi yang menjadi beban pikiranmu sehingga kamu memutuskan untuk menghindar. Masalah yang terasa seperti tembok besar nan kokoh. Masalah yang membuat kita tidak bisa diterima oleh masing-masing keluarga kita. Masalah yang juga akhirnya sering menjadi bahan pertengkaran kita. Apakah karena itu sehingga akhirnya kamu memutuskan pergi seperti sekarang ini. Ketika norma peradatan terpilih sebagai alasan. Mereka ciptakan jurang antara kita. Sampai akhir nanti kita berusaha bertahan dan terus bertahan.

Sayangku…

Masihkah kau pegang erat prinsip kita berdua ? Prinsip yang kita ikrarkan berdua di depan masjid Istiqlal dan gereja Katedral yang menjadi simbol dari keyakinan kita berdua. Bahwa sesungguhnya cinta itu datang untuk menolak segala perbedaan ???

Dan disini, di taman Monas ini. Aku tetap akan menunggu datangnya kabar darimu. Dengan segenap cinta kan kutunggu walau tak pernah tau sampai kapan itu. Dan senyum rembulan menjadi kekuatan bagiku untuk terus mewujudkan janji ini. End.

About satryko

family and friendship are the most important things in this world, for me.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s