Tatapanmu

eyes

Jumat, 17 januari 2014

Mengingatmu kembali sungguh menusuk perasaanku. Masih terbayang jelas tatapanmu. Tatapan yang cukup aku tahu bahwa semua yang ingin aku tahu tidak akan mendapat jawaban apa-apa darimu. Tatapan yang mengatakan bahwa saat ini kamu hanya ingin sendiri saja, dan tidak ingin ada sesi tanya jawab apapun. Tatapan yang berarti aku harus pergi dari sisimu. Tatapan yang mengisyaratkan dari sifat keras kepalamu.

Disini, dikamar ini berteman lagu-lagu sendu dari Kla Project dan gerimis yang sudah mulai reda kembali aku mencoba untuk mencari tahu akar dari pertekaran hebat kita. Dan aku masih saja nggak ngerti, dimana dan apa salahku.

Memikirkanmu kembali membuat aku jadi ingat semua apa yang telah kita lalui selama ini.

4 tahun, ya, 4 tahun sudah kita menjalani hubungan ini. mencoba untuk mengerti dan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berusaha menerima siapa kamu dan siapa aku apa adanya. Membangun kembali fondasi dari masing-masing kita yang baru saja porak poranda. Fondasi yang benar-benar mulai dari awal lagi.

Komitmen…itulah yang kamu inginkan sejak awal kita membina hubungan ini. Kamu ingin sesuatu yang jelas karena bagimu kita bukan lagi anak-anak ABG yang hanya cinta sesaat, bukan lagi cinta yang hanya untuk kesenangan belaka.”bukan jamannya lagi kita seperti itu”, itu katamu.

Sempat aku terdiam lama saat kamu mengajukan syarat seperti itu. Karena aku tahu saat itu usiamu baru 21 thn. Tapi sikap dewasamu itu yang membuat aku sempat tertegun tak menyangka. Tak menyangka bahwa dibalik sikapmu yang terkesan hura-hura dan manja ternyata tersimpan sifat yang sangat dewasa.

Pada titik ini baru aku tesadar. KOMITMEN. Itulah sesuatu yang membuatmu sangat resah, gelisah dan mudah marah akhir-akhir ini. Sesuatu yang selalu aku coba hindari secara halus setiap kali kamu mencoba menggiring arah perbincangan kita. Sesuatu yang secara halus juga selalu kamu singgung disetiap interaksi kita.

Pada titik ini aku tersadar  bahwa semua ini memang salahku. Salahku yang tak pernah bisa memberikan kepastian padamu. Salahku yang telah lupa dengan syarat yang telah aku sanggupi dulu.

Sayangku,, maafkan aku. Maafkan aku yang telah lupa dengan apa yang telah aku janjikan dulu padamu. Maafkan juga atas sikap acuh ku setiap kamu mencoba bertanya hal itu. Sungguh,, jauh didalam lubuk hatiku tak pernah sedikit pun ada niat untuk mensia-siakanmu. tak pernah ada niat untuk mengabaikanmu ataupun menggantungmu. Sungguh, tak pernah ada dalam pikiranku ingin kehilangan dirimu. Aku berjanji akan segera memenuhi komitmen yang dulu pernah kita sepakati. Maafin aku, sayangku.

Dan suara merdu dari Katon kembali memasuki alam pendengaranku, “…adakah waktu mendewasakan kita. kuharap masih ada hati bicara. mungkinkah saja terurai satu per satu, pertikaian yang dulu bagai pintaku…semoga.”

About satryko

family and friendship are the most important things in this world, for me.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s